Papua tidak hanya dikenal dengan keindahan alamnya yang memukau, tetapi juga kekayaan budayanya yang sangat mendalam, terutama dalam bidang seni musik. Menyadari pentingnya menjaga warisan leluhur ini agar tetap eksis di tengah derasnya arus musik modern, diselenggarakanlah sebuah agenda penting bertajuk Workshop Musik Tradisional di Manokwari. Kegiatan ini dirancang secara khusus untuk merangkul generasi muda, khususnya para pelajar, agar kembali mengenal dan mencintai identitas musikal daerah mereka. Musik tradisional bukan sekadar rangkaian nada, melainkan cerminan jiwa, sejarah, dan filosofi hidup masyarakat Papua yang harus dijaga kelestariannya.
Pelaksanaan workshop di Manokwari ini menjadi wadah edukasi yang sangat interaktif. Siswa diajak untuk mengenal berbagai jenis instrumen musik asli yang terbuat dari bahan-bahan alam, seperti kayu, kulit binatang, hingga bambu. Selama ini, banyak remaja yang mungkin lebih akrab dengan alat musik modern seperti gitar atau drum, namun melalui kegiatan ini, mereka diberikan kesempatan untuk menyentuh dan memainkan alat musik yang telah digunakan oleh nenek moyang mereka selama berabad-abad. Sekolah dan komunitas seni setempat bersinergi untuk memastikan bahwa pengetahuan teknis mengenai pembuatan dan cara memainkan alat musik ini tidak terputus di satu generasi saja.
Fokus utama dalam rangkaian kegiatan ini adalah Sosialisasi Harmoni Alat Musik. Dalam musik tradisional Papua, harmoni tidak hanya dicapai melalui keselarasan nada, tetapi juga melalui kebersamaan antar pemainnya. Siswa diajarkan bagaimana setiap instrumen memiliki peran yang unik namun saling melengkapi. Misalnya, bagaimana ritme yang dihasilkan oleh Tifa harus berpadu dengan melodi dari instrumen lainnya untuk menciptakan suasana yang magis dan membangkitkan semangat. Sosialisasi ini menekankan bahwa musik adalah bahasa persatuan yang mampu mempererat ikatan sosial di tengah masyarakat yang beragam.
Dalam sesi Musik Tradisional tersebut, para peserta diberikan pelatihan intensif mengenai teknik memukul, meniup, atau memetik instrumen dengan benar. Mereka belajar bahwa setiap alat musik memiliki karakter suara yang berbeda-beda tergantung pada cara perlakuannya. Instruktur ahli menjelaskan filosofi di balik setiap irama; ada irama yang melambangkan kegembiraan saat panen, ada yang melambangkan keberanian saat berburu, dan ada pula yang bersifat meditatif untuk upacara adat. Melalui pemahaman ini, siswa tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga memiliki kedalaman rasa saat membawakan lagu-lagu daerah.