Bulan Ramadhan sering kali menjadi momentum yang paling tepat untuk melakukan perubahan perilaku ke arah yang lebih positif. Bagi siswa SMPN 1 Manokwari, bulan suci ini bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan juga kesempatan emas untuk memutus kebiasaan buruk, salah satunya adalah merokok. Melalui program sosialisasi intensif yang diselenggarakan pihak sekolah, para siswa diajak untuk memahami secara mendalam tentang bahaya merokok bagi kesehatan fisik maupun mental, terutama jika kebiasaan ini terus dilakukan di masa remaja yang krusial bagi pertumbuhan mereka.
Penyelenggaraan kegiatan ini saat puasa dirasa sangat strategis karena secara psikologis, para siswa sedang berada dalam fase menahan diri dan mendisiplinkan keinginan. Pihak sekolah mengundang tenaga kesehatan dari puskesmas setempat untuk memaparkan dampak jangka panjang merokok yang tidak hanya merusak paru-paru, tetapi juga menghambat konsentrasi belajar serta menurunkan stamina fisik. Bagi siswa SMPN 1 Manokwari, paparan yang disampaikan secara ilmiah dan faktual ini menjadi peringatan keras untuk segera meninggalkan atau setidaknya tidak mencoba-coba rokok sejak dini.
Dampak merokok pada remaja sangatlah fatal, terutama karena organ tubuh mereka masih dalam masa perkembangan. Zat-zat kimia berbahaya seperti nikotin, tar, dan karbon monoksida yang terkandung dalam rokok dapat mengganggu sistem pernapasan dan kardiovaskular. Selain itu, merokok di usia remaja sering kali menjadi pintu gerbang bagi perilaku berisiko lainnya. Oleh karena itu, edukasi ini dirancang agar siswa mampu menolak tekanan teman sebaya (peer pressure) yang biasanya menjadi alasan utama seorang remaja mulai merokok. Siswa diajarkan cara tegas mengatakan “tidak” dengan tetap menjaga hubungan baik pertemanan.
Dalam sesi diskusi, banyak siswa yang mengaku bahwa rasa penasaran dan keinginan untuk terlihat dewasa adalah motif utama di balik perilaku merokok. Sekolah pun merespons hal ini dengan menyediakan ruang bagi siswa untuk menyalurkan energi mereka ke kegiatan yang jauh lebih bermanfaat, seperti olahraga, seni, atau organisasi kesiswaan. Dengan menyibukkan diri pada aktivitas positif, godaan untuk merokok dapat diminimalisir secara signifikan. Guru-guru di sekolah juga bertindak sebagai teladan dengan tidak merokok di lingkungan sekolah, menciptakan lingkungan yang benar-benar bersih dan sehat bagi seluruh warga sekolah.