Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah tahapan yang sempurna untuk memupuk dan mengasah rasa ingin tahu siswa melalui eksplorasi sains. Lebih dari sekadar pelajaran di buku, ilmu alam di SMP mengajak siswa untuk mengamati, bertanya, dan menemukan jawaban tentang fenomena di sekitar mereka. Pendekatan ini tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga melatih cara berpikir ilmiah dan kritis yang sangat berharga.
Di jenjang SMP, mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tidak lagi hanya berupa konsep-konsep dasar, melainkan terbagi menjadi fisika, kimia, dan biologi yang lebih mendalam. Siswa diajak untuk melakukan eksperimen langsung di laboratorium, mengamati reaksi kimia, mengidentifikasi organisme mikroskopis, hingga memahami prinsip-prinsip gaya dan energi. Kegiatan praktikum ini adalah inti dari eksplorasi sains, memungkinkan siswa untuk membuktikan teori, membuat hipotesis, dan menganalisis data secara mandiri. Sebagai contoh, pada hari Selasa, 25 Juni 2024, SMP Inovasi Cerdas mengadakan “Hari Sains Interaktif” di laboratorium sekolah. Acara yang dimulai pukul 09.00 WIB ini menampilkan berbagai percobaan fisika dan kimia sederhana yang dibuat oleh siswa kelas 8, dipandu oleh guru IPA dan disaksikan oleh perwakilan dari Dinas Pendidikan Kota.
Selain di laboratorium, eksplorasi sains juga diperluas melalui proyek-proyek penelitian sederhana dan kunjungan edukasi. Banyak SMP memiliki klub ilmiah atau Karya Ilmiah Remaja (KIR) yang memungkinkan siswa untuk mendalami topik yang mereka minati, melakukan pengamatan di lapangan, atau bahkan merancang inovasi kecil. Pada hari Sabtu, 13 Juli 2024, tim KIR SMP Harapan Bangsa melakukan kunjungan lapangan ke pusat penelitian lingkungan setempat untuk mempelajari pengolahan limbah. Kunjungan yang didampingi oleh guru pembimbing ini membuka wawasan mereka tentang aplikasi sains dalam kehidupan nyata.
PMI juga turut berkontribusi dalam memperluas wawasan siswa terkait sains, khususnya dalam konteks kesehatan dan lingkungan. Melalui program Palang Merah Remaja (PMR), siswa diajarkan tentang sistem tubuh manusia dalam konteks pertolongan pertama, atau memahami dampak sanitasi buruk terhadap kesehatan. Bahkan, dalam beberapa kegiatan sosialisasi yang melibatkan PMI, seperti penyuluhan kebersihan lingkungan yang terkadang dihadiri oleh petugas dari Dinas Lingkungan Hidup atau aparat kepolisian, siswa secara tidak langsung melakukan eksplorasi sains terkait ekosistem dan dampaknya. Dengan berbagai metode interaktif ini, SMP tidak hanya mencetak siswa yang pintar, tetapi juga individu yang memiliki rasa ingin tahu tinggi, mampu berpikir ilmiah, dan siap berkontribusi melalui ilmu pengetahuan.